Stealth
mungkin boleh jadi salah satu hal khas yang ikut membesarkan nama Metal
Gear, namun itu tidak sepenuhnya berarti franchise ini hanya melulu
soal menyelinap dan meminimalisir konflik sebisa mungkin. Melalui Metal Gear Rising: Revengeance,
franchise Metal Gear menunjukkan kemampuannya untuk melakukan
transformasi genre. Kontroversial memang, mengingat akan adanya mereka
yang dapat menerima dan dapat juga menolak. Terlepas dari pro dan
kontra, tampaknya kehadiran Raiden sebagai tokoh utama dari pengembangan
kali ini nyatanya tidak dipungkiri memang cukup menjanjikan untuk para
penyuka genre hack & slash bertempo cepat.
Premis Metal Gear Rising: Revengeance menceritakan Raiden dan rangkaian peristiwa yang terjadi empat tahun semenjak Guns of the Patriots. Raiden kini tergabung dalam sebuah Private Military Company (PMC) penjaga perdamaian yang disebut Maverick Security Consulting.
Kenyataannya, perdamaian nampak belumlah sepenuhnya dicapai dengan
usainya konflik The Patriots. Dalam salah satu misi pengawalan yang
dilakukannya, Raiden harus berseteru dengan salah satu PMC lain yang
disebut Desperado Enforcement dan berujung dengan kekacauan. Untuk
sekali lagi, sang cyborg ninja pun harus kembali bertarung demi mengembalikan kedamaian di dunia.
Berbeda dari judul-judul terdahulu yang kerap menitikberatkan gameplay-nya pada stealth, stealth tampaknya memang harus dikesampingkan dalam game kali ini. Tidak sepenuhnya melenyapkan unsur stealth di dalam gameplay-nya, stealth masihlah diterapkan untuk menghindari kontak lawan dan melakukan stealth kill. Dengan menekan tombol Atas pada D-Pad, Raiden juga dapat mengaktifkan Augment Mode untuk menganalisa situasi dan posisi lawan yang ada di sekitarnya. Namun, stealth seolah memang kurang didukung oleh kinerja kamera yang lebih terbatas dan absennya kemampuan bersembunyi memanfaatkan obyek. Obviously, he’s not the Snake we used to know.
Mengiris lawan dengan HF Blade adalah keistimewaan yang ditekankan di
dalam game ini, yang lebih lanjutnya memperkenalkan kalian dengan fitur
khusus disebut Zandatsu (Cut & Take). Dalam posisi Blade Mode, momen yang dibuat slow motion memungkinkan kalian dapat memotong lawan lebih spesifik dengan analog kanan, karena perlu diperhatikan bahwa ada part tertentu yang dapat Raiden incar dan ambil saat muncul command-nya. Melakukan Zandatsu akan memulihkan health dan memberikan item tertentu. Ketimbang menekankan stealth yang sudah dilakukan MGS, Rising jelas mencoba untuk menawarkan hal berbeda. Memungkinkan aksi keren Raiden yang sebelumnya hanya dapat dilihat pada cutscene MGS4, menjadi nyata untuk fans coba sendiri.
Layaknya game action keluaran sekarang pada umumnya, sejumlah momen QTE (quick-time events) pun tidak dikecualikan untuk kembali dihadirkan Rising.
Sementara pada versi demo ini, juga sempat ditemukan salah satu
interaksi moral yang memungkinkan saya dapat menolong seorang NPC civilian, entah apakah hal ini akan berperan lebih pada versi full-nya
nanti. Dan terlepas dari serangan yang cukup memadai, agak disayangkan
kalau Raiden terkesan kurang didukung oleh kemampuan evasive yang harusnya membuat sang jagoan layaknya ninja yang gesit, selain dari fitur parrying yang dapat digunakan menangkis serangan tertentu.